.::. Perampok Bersenjata Api Di Medan, Sumatra Utara .::.


Posmetro Medan melaporkan:

Jakarta-Aksi perampokan bersenjata api di Medan dan Langkat perlu diwaspadai, terutama pengusaha, perumahan mewah dan bank atau warga yang berurusan dengan uang dalam jumlah besar. Diprediksi, sejumlah dedengkot rampok kini sedang berkumpul. Polisi dituntut kerja keras karena pelaku bukan orang asing lagi bagi institusi yang dipimpin Jenderal Bambang Hendarso Danuri ini.

Polisi Medan sempat repot dengan aksi perampokan toko emas di Pulo Brayan dan disusul penjarahan dan penyekapan Caleg DPR RI dari PDP Ir Washinton Sipayung. Belum lagi tuntas, kawanan perampok bersenjata jenis FN dan AK 47 menggasak Rp 1,2 miliar dari Kantor Kas Pembantu Bank Mestika Jalan S Parman. Teranyar, dua perampokan bersenjata api di Langkat. Aksi beruntun ini mengisyaratkan, sejumlah perampok ‘turun gunung’.

perampok bersenjata api medan

Pelaku kejahatan dengan modus perampokan menggunakan senjata api biasanya merupakan penjahat-penjahat yang sudah profesional, bukan amatiran. Artinya, jumlahnya tidak banyak. Asumsi itulah yang digunakan kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Prof Adrianus Meliala dalam menganalisis serangkaian perampokan yang terjadi di Medan dan Langkat, beberapa hari belakangan ini.

Berikut wawancara POSMETRO MEDAN dengan Adrianus di Jakarta, kemarin (2/4).

Perampokan di Bank Mestika dan Bank Mandiri, Medan, hingga sekarang belum terungkap. Muncul lagi perampokan yang juga dengan senjata api di Langkat. Bagaimana Anda melihatnya?

* Pelaku perampokan, terutama yang menggunakan senjata api, itu pasti jumlahnya tidak banyak. Karena merampok dengan menggunakan senjata api itu bukan kejahatan yang gampang. Pasti pelakunya sudah profesional, bukan amatiran. Dengan demikian, ketika terjadi serangkaian perampokan bersenjata api yang terjadi di satu wilayah tertentu, saya yakin pelakunya ya itu-itu juga.

Lantas, apa yang harus dilakukan polisi?

* Saya yakin, kalau polisi mau berkonsentrasi kepada pemain-pemain lama, kasus perampokan itu bisa diungkap. Polisi cukup membuka data pemain-pemain lama yang pernah aktif merampok, atau yang sudah pernah ditangkap dan dipenjara. File-filenya pasti masih ada. Data-data pemain lama itu yang mesti dikembangkan.

Mengapa serangkaian perampokan terjadi di wilayah Polda Sumut?

* Sudah tentu ada faktor pemicunya. Barangkali para perampok itu menilai polisi di Sumut sedang dalam situasi lengah. Kalau anggapan ini yang muncul, bisa jadi saat ini para dedengkot perampok sedang ngumpul di Medan.

Anda menilai polisi Sumut dalam situasi lengah?

* Bukan saya yang menilai. Kondisi di lapangan di mana polisi lebih konsentrasi dalam pengamanan pemilu, bisa jadi dimanfaatkan oleh para perampok untuk beraksi. Para perampok sudah pasti terlebih dahulu mempelajari perilaku polisi di lapangan.

Pemicu lain maraknya perampokan?

* Barangkali masih terkait dengan pemilu. Anda bisa bayangkan, di masa-masa kampanye menjelang pemilu seperti sekarang ini, begitu banyak uang yang akan dibelanjakan atau beredar di masyarakat. Lalu lintas uang berpusat di bank, maka bank yang menjadi sasaran. Polisi harus memahami situasi seperti sekarang ini.

Menurut Anda, apakah polisi sudah paham kondisi seperti itu?

* Untuk kasus perampokan dengan menggunakan senjata api, memang bukan hal yang gampang untuk mengungkapnya. Seperti yang saya katakan tadi, pelakunya pasti profesional.

Jadi, kelambanan polisi bisa dimaklumi?

* Bukan seperti itu maksud saya. Polisi tetap harus bisa menangkap pelakunya. Hanya saja, pelakunya memang bukan pelaku kelas pemula atau amatiran. Dengan demikian, dari segi kecepatan untuk menangkapnya, pasti juga susah. Itu kondisi riilnya. Kalau masyarakat terlalu kuat menekan polisi agar bisa cepat menangkap pelakuknya, nanti malah polisi bisa salah langkah. Jangan sampai polisi merasa tertekan lantas kemudian terjadi salah tangkap misalnya. Yang penting, polisi terus diingatkan selama pelakunya belum tertangkap. Yang juga penting diingatkan bahwa bukan tidak mungkin para dedengkot perampokan saat ini sedang kumpul-kumpul di Medan.

Kalau situasi sudah gawat, apa memang perlu Polda Sumut minta bantuan Mabes Polri?

* Masalah bantuan dari Mabes itu menyangkut dua aspek, yakni ketersediaan anggaran dan personil. Namun, dalam konteks permintaan bantuan untuk mengungkap kasus perampokan bersenjata api, tidak hanya menyangkut dua aspek itu. Ada yang lebih penting, yakni masalah keakuratan informasi. Nah, kalau bicara mengenai informasi, jajaran polisi di tingkat Polda sudah tentu punya informasi yang lebih bagus dibanding polisi dari Mabes Polri. Orang-orang di Polda pasti lebih tahu siapa saja jagoan-jagoan di tingkat lokal.

Polisi Butuh Polsek Baru

Aksi rampok bersenpi akhir Maret 2009 di Langkat tak semata kesalahan polisi lokal. Demikian ujar Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira, kepada POSMETRO MEDAN di Jakarta, kemarin (2/4).

Ada kaitan dengan luasnya wilayah karena dari 23 kecamatan hanya ada 9 Polsek. Seharusnya 1 kecamatan dikawal 1 Polsek. Dan sejumlah polsek di Medan juga mengalami hal serupa. Beberapa kecamatan dikawal 1 polsek. “Tapi ini kan terkendala dengan anggaran serta tanah tempat dibangunnya kantor. Yang sudah ada harus dioptimalkan,” ungkapnya.

Menanggapi perlunya bantuan, Abubakar berharap Kapoldasu, Irjen Pol Badrodin Haiti tak sungkan meminta bila merasa tak mampu. “Toh Mabes Polri selalu siap sedia menurunkan personil bantuannya. Selama tidak ada permintaan bantuan, Mabes Polri menganggap Polda Sumut mampu menyelesaikan tugasnya sendiri,” ujarnya.

Aksi Perampokan Menghebohkan

Berikut sejumlah perampokan besar yang menghebohkan. Belum berhasil mengungkap tuntas perampokan bersenjata api yang menggasak ratusan juta uang di KCP Bank Mandiri Jalan TD Pardede, dua Bank Mestika malah kembali dijarah. Pertama Bank Mestika Medan Labuhan dengan total Rp 300 juta kemudian Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Mestika di Jalan S Parman dengan total Rp 1,2 miliar.

Disusul perampokan di Kantor Urusan Pelayanan Teknis (KUPT), yang biasa juga disebut dengan istilah kantor cabang dinas (Kacabdis) P dan P di Jalan Perjuangan, Kelurahan Bukit Kubu, Kecamatan Besitang. Rp 400 juta gaji guru dirampok. Di hari yang sama, di Salapian Kab Langkat, seorang karyawan PT Gudang Garam tewas dibacok perampok yang kemudian mengambil gaji yang dibawanya sebesar Rp 31 juta.

Belum lagi perampokan toko emas di Pulo Brayan, perampokan di kediaman Caleg DPR RI dari PDP, Ir Washinton Sipayung dan perampokan disertai pembunuhan di Jalan Merbau yang menimpa Kiyong Gie Lhan alias Gek Kiaw alias Ai (63), wanita jompo lumpuh.

Source: Perampok Bersenjata Api Medan | Berita Cerita Kota Medan http://www.medantalk.com/perampok-bersenjata-api/#ixzz0nAnjFqfY
Copyright: http://www.MedanTalk.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: